SORONG.SorongPos.Com,-
Keanekaragaman hayati laut menyumbang nilai ekonomi global hingga USD 1,5 triliun dan menopang kehidupan lebih dari 3 miliar orang. Hanya saja untuk pembiayaan konservasi spesies laut, secara berkelanjutan masih sangat terbatas. Menyikapi hal tersebut, Konservasi Indonesia (KI) dan Conservation International (CI) memprakarsai Manta Impact Bond, sebuah instrumen pembiayaan berbasis hasil (outcomes-based financing) pertama di dunia, untuk konservasi pari manta, salah satu megafauna laut paling ikonik di dunia.
Pelaksanaan kegiatan Manta Impact Bond dilaksanakan di lantai 6 Hotel Vega dan dibuka secara langsung oleh Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu.Bahkan dalam kesempatan tersebut, pihak Pemprov Papua Barat Daya menyambut baik inisiasi pembiayaan tersebut. Hal ini bertujuan untuk keberlanjutan masa depan warga lokal sekaligus konservasi pari manta.
“Pari manta merupakan aset ekologis yang harus dijaga bersama, karena pari manta bukan sekadar bagian dari keanekaragaman hayati laut, keberadaannya memiliki nilai ekologis, pendidikan, penelitian, serta potensi ekonomi yang dapat mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan dan peningkatan manfaat bagi masyarakat lokal,” akunya.
Selain itu juga seperti diketahui pari manta karang (Mobula alfredi) dan pari manta oseanik (Mobula birostris), memiliki peran ekologis yang vital. Namun keduanya rentan terhadap kepunahan, apabila menghadapi tekanan yang mengancam kelangsungan hidupnya, karena tumbuh dan bereproduksi dengan lambat.
Oleh karena itu Indonesia memegang peran sentral dalam konservasi manta global, karena memiliki habitat penting, termasuk Raja Ampat yang menjadi rumah bagi populasi manta karang terbesar kedua di dunia.
Disamping itu pula populasi manta di Raja Ampat juga menunjukkan peningkatan, meskipun keberlanjutan tren ini bergantung pada perlindungan yang konsisten.
Secara ekonomi, seekor pari manta mampu menyumbang hingga USD 1 juta sepanjang usianya melalui sektor pariwisata bahari, mulai dari aktivitas menyelam, retribusi kawasan, hingga perputaran ekonomi warga pesisir. Disamping memiliki potensi ekonomi yang sangat besar, inilah yang mendorong pemerintah memberlakukan status perlindungan penuh sejak tahun 2014 lalu. Kendati demikian, adanya payung hukum saja tidak cukup tanpa didukung oleh kepastian pembiayaan yang berkelanjutan untuk mengawal penegakan aturan di lapangan.
Sementara itu Ruth Aprilia selaku Sustainable Finance Manager Konservasi Indonesia mengatakan, mekanisme Manta Impact Bond adalah menargetkan penggalangan dana awal (upfront capital), dengan besaran dan sumber pendanaan masih dalam tahap penilaian melalui kajian tapak dan konsultasi pemangku kepentingan di kedua lokasi prioritas.
Menurutnya juga saat ini program Manta Impact Bond sedang dalam tahap perancangan selama dua tahun kedepan dengan dukungan pendanaan dari Agence Française de Développement (AFD).
“Modal dari penyandang dana awal disalurkan melalui Manta Resilience Fund untuk mendanai perlindungan populasi dan habitat pari manta, sekaligus meningkatkan manfaat ekowisata bagi komunitas lokal dan masyarakat adat, yang hidup berdampingan dengan pari manta. Penyandang dana awal hanya akan menerima pengembalian pokok beserta imbal hasil dari penyandang dana (outcomes funders) apabila kesuksesan capaian target konservasi telah diverifikasi secara independen,” ujarnya.
Adapun perancangan strategi konservasi jangka panjang, bertumpu pada kajian ilmiah dan kebutuhan nyata di tingkat tapak. Hal ini sebagaimana disampaikan Iqbal Herwata selaku Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia. Menurutnya rancangan instrumen pendanaan, disusun untuk merespons tantangan konservasi pari manta di Raja Ampat.
Lanjut Iqbal melalui lokakarya bersama para pemangku kepentingan, teridentifikasi enam isu prioritas bagi konservasi pari manta terdiri dari penangkapan ilegal, praktik wisata yang tidak bertanggung jawab, penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, pencemaran sampah dan limbah, dan sedimentasi di habitat pari manta, serta risiko tertabrak dengan kapal dan speedboat.
“Proses saat ini berfokus pada penilaian kondisi awal, penyusunan strategi konservasi, untuk 20 tahun ke depan baik kajian kelayakan, serta perancangan struktur Manta Impact Bond,” bebernya.
Disamping itu langkah tersebut bertujuan memastikan intervensi yang dirancang menghasilkan dampak terukur dan mendukung kelestarian populasi pari manta di Raja Ampat.
“Manta Impact Bond direncanakan mulai dilaksanakan pada awal 2029,” imbuhnya.
Disamping itu pula Lead Conservation Scientist Elasmobrand Institute Indonesia menguraikan bahwa, akurasi pemantauan ilmiah menjadi kunci utama verifikasi pencapaian ekologis sebelum pembayaran imbal hasil dilakukan. Oleh karena itu menekankan pentingnya metode ilmiah, yang kokoh dalam mengukur parameter keberhasilan proyek secara objektif. “Integrasi data pemantauan populasi melalui photo-ID, pergerakan, dan kesehatan habitat penting, untuk memverifikasi pencapaian ekologis serta memastikan kebijakan pengelolaan adaptif berbasis bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Disamping itu pada tingkat pelaksana teknis, efektivitas skema pembiayaan, bergantung pada kesiapan kelembagaan pengelola yang berinteraksi langsung dengan pemanfaat kawasan.
Sementara itu Kepala BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Kepulauan Raja Ampat, Hasan Makassar, menyatakan kesiapannya dalam mengawal implementasi program. Bahkan sebagai mandatori SUOP, pihaknya berkomitmen memastikan setiap alokasi pendanaan berujung pada penguatan aksi nyata patroli pengawasan, pelestarian habitat, serta pendampingan masyarakat adat.
“‘Hal ini bertujuan
agar seluruh pemanfaat kawasan berpegang teguh pada prinsip berkelanjutan,” ungkapnya. (boy)

