Keluarga Korban Bantah Tudingan Kodap TPNPB Kodap 33 Rumana Tambrauw

Keluarga Korban Bantah Tudingan Kodap TPNPB Kodap 33 Rumana Tambrauw

SORONG.SorongPos.Com,-Pieter Ramba selaku kerabat dari almarhum Yeremias Lobo saat ditemui di rumah duka Kolam Buaya Km 10 Distrik Sorong Utara mengatakan, dengan kejadian tragis yang menimpa anak dan keponakkannya adalah merupakan yang pertama dan terakhir. Ditegaskannya juga kepada para pelaku yang melakukan pembunuhan yang sangat sadis,agar suatu saat diberikan kesadaran dan diberikan hikmat.
” Sebenarnya mereka para pelaku juga diberikan hikmat, tetapi mereka tidak pergunakan hikmat itu dengan baik,” ujarnya.
Ditegaskannya pula pihaknya juga tidak menyalahkan aparat penegak hukum baik TNI maupun Polri, tetapi sudah cukup bantuan yang diberikan berupa pengawalan dari tempat kejadian ke rumah sakit dan sampai ke Sorong. Akan tetapi kedepan, pihaknya mengharapkan pada lokasi atau daerah titik- titik rawan dilakukan penjagaan atau mendirikan pos pengamanan, sehingga masyarakat yang melakukan mobilitas baik ke Tambrauw maupun kembali ke Sorong dengan aman dan nyaman.
” Kejadian ini kan sudah 2 kali terjadi. Yang pertama baru 8 hari yang lalu, selama ini Papua Barat Daya dianggap aman. Tapi akhir-akhir ini menjadi terusik dengan peristiwa seperti begini,” akunya.
Oleh karena itu pihaknya mengharapkan baik institusi TNI maupun Polri dapat menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan itu merupakan harapan dari keluarga. Selain itu kata Pieter selaku keluarga yang ditinggalkan agar diberikan kekuatan, ketabahan dengan kejadian ini. Ditambahkan pula kronologis awal almarhum turun ke Sorong, hari Senin pagi (16/3) dihubungi istrinya, informasi dari almarhum bahwa dirinya sudah menuju ke Sorong. Kemudian istrinya memperkirakan almarhum sudah sampai. Akan tetapi tidak sampai – sampai ke Sorong. ” Memang almarhum sebelum turun ke Sorong sempat komunikasi dengan istri dan mertuanya. Kemudian sering video call dengan anaknya yang masih kecil berusia 1 tahun lebih,” akunya
Diakui Pieter bahwa almarhum turun ke Sorong, karena sudah rindu kepada anaknya. Bahkan keinginan almarhum untuk turun ke Sorong sempat dilarang oleh mertuanya.
” Itu benar, mama mantunya sempat melarang. Karena kejadian sebelumnya masih sekitar 8 hari yang lalu. Tapi namanya ajal, kalau seandainya dia pakai mobil dan tidak pakai motor. Situasi mungkin berbeda, tapi namanya sudah takdir,” bebernya.
Menurut Pieter bahwa almarhum sudah bekerja sebagai tenaga kesehatan sudah hampir 10 tahun. Oleh karena itu harapannya sebagai keluarga terutama kepada pemerintah daerah. Hal ini dikarenakan tenaga kesehatan hadir di daerah pelosok harus dijaga keamanannya.
” Ini kan pelayanan sosial dan sangat mulia, tetapi kenapa kok yang paling banyak menjadi korban adalah tenaga kesehatan dan pendidik. Padahal kedua tenaga ini sangat dibutuhkan, untuk hadir ditengah-tengah masyarakat. Tujuan mendidik masyarakat, tapi sebaliknya dijadikan sebagai musuh, karena dianggap oleh para pelaku sebagai tenaga yang suka bikin kacau dan sebagainya,” tegasnya.
Lebih lanjut Pieter selaku keluarga sempat melihat melalui video diberbagai media sosial. Dimana para pelaku menuduh almarhum dan temannya yang turut menjadi korban adalah intelijen TNI dan Polri. Hal itu sangat tidak benar, seperti apa yang dituduhkan kepada almarhum. Apalagi sampai dikatakan menemukan adanya 2 butir amunisi. ” Itu tuduhan yang sangat keji, yang jelas tuduhan dari para pelaku untuk membenarkan tindakan mereka,sehingga seakan-akan mereka benar. Padahal sama sekali tidak benar, yang pegang senjata dan alat tajam, itu mereka para pelaku,” urainya.(boy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *