SORONG.SorongPos.Com,- Gubernur Provinsi Papua Barat Daya Elisa Kambu yang diwakili Kepala Dinas Pemuda Olahraga, Pariwisata Ekonomi Kreatif Papua Barat Daya Yusdi Lamatenggo saat ditemui media, Sabtu (30/8) di sela-sela penutupan Kejuaraan Open Tournamen Ikatan Pencak Silat Indonesia Papua Barat Daya (IPSI PBD)menjelaskan, pihak memberikan apresiasi yang luar biasa kepada semua kontingen yang mengikuti kejuaraan ini baik dari Papua,Papua Barat,Papua Tengah dan Papua Barat Daya.
Menurutnya walaupun kondisi Kita Sorong dalam beberapa hari jadi belakangan ini menghangat, tetapi kejuaraan ini bisa berlangsung dengan baik. Bahkan pihaknya memberikan apresiasi kepada seluruh wasit, juri yang bekerja profesional dalam rangka mengembangkan olahraga pencak silat di PBD termasuk pelatih dan ofisial yang sudah mempersiapkan atlit-atlitnya yang ikut turnamen.
” Atlit yang telah berjuang dalam mengikuti pertandingan dan sudah menunjukan bakat, perjuangan, semangat, dedikasi, sportifitasnya,” akunya.

Bahkan kata Yusdi olahraga pencak silat tidak hanya merupakan olahraga berprestasi. Tetapi dari seluruh cabang olahraga (cabor) di KONI se- Indonesia. Namun yang paling berbahagia adalah cabor silat dikarenakan Ketua Umum IPSI Indonesia sendiri adalah Presiden RI Prabowo Subianto. Selain itu ditegaskan juga bahwa pencak silat,tidak hanya olahraga berprestasi. Tetapi merupakan olahraga budaya bangsa Indonesia. Dengan demikian olahraga ini merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan oleh semua anak bangsa.
” Pencak silat bagian dari budaya Indonesia. Sudah tepat di Papua Barat Daya, Ketua Umumnya adalah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Jadi IPSI bisa mendapatkan dua berkah yakni dana pembinaan olahraga dari Dispora dan juga dana pembinaan budaya dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Jadi harus karena pencak silat adalah olahraga budaya bangsa ini,” tegasnya.
Diharapkan melalui kejuaraan ini, dapat meningkatkan kualitas IPSI Papua Barat Daya mulai dari atlit, kemudian menyusul pelatih bersertifikasi dan kualitas wasit serta juri. Menurutnya untuk meningkatkan kualitas pencak silat, maka 3 faktor yang sudah disebutkan harus terintegrasi.
” Harus dibina dan dikembangkan secara bersama-sama. Kedepan untuk wasit dan juri sesuai UU selalu harus berkolaborasi dengan sport sains. Kebetulan Unimuda adalah mitra Provinsi untuk kembangkan sprot sains di PBD. Pencak silat juga harus mengembangkan kualitas melalui pendekatan sport sains,” akunya.

Disamping itu juga Yusdi mengatakan untuk pengembangan talenta muda di bidang olahraga terutama pencak silat. Kedepan di Papua Barat Daya tidak hanya pencak silat di kota dan kabupaten Sorong. Tetapi kabupaten Sorong Selatan,Maybrat dan Tambrauw juga harus ada perguruan pencak silat.
” Kalau Raja Ampat sudah ada. Tahun depan kejuaraan ini sudah ada perguruan dari kabupaten lainnya di Papua Barat Daya,” tegasnya.
Lebih jauh Yusdi mengharapkan olahraga pencak silat, menjadi wadah dan pembinaan karakter generasi muda yang berbudi luhur dan tidak dipakai untuk tawuran. Disamping itu juga kejuaraan ini juga sudah dapat terlihat hasil yang diraih, tentunya dengan pembinaan yang baik kedepan dan dipersiapkan mengikuti setiap ivent kejuaraan nasional,sehingga nantinya dapat mengulang prestasi pada PON 2028 mendatang di NTT dan NTB.
” Karena kita semua tahu pelaksanaan PON 2024 lalu di Aceh dan Sumut. Walau kita provinsi baru dan persiapan yang sangat kurang. Tapi kita berhasil meraih medali perunggu. Ini satu prestasi yang harus dikembangkan terus menerus,” pungkasnya. (boy)

