SORONG.SorongPos.Com,- Menyusul penanganan masalah sampah tidak hanya terjadi di wilayah Kota Sorong saja. Akan tetapi permasalahan yang sama juga masih terjadi pada satu wilayah kota Sorong yakni pulau Doom. Bahkan dari informasi yang dihimpun media ini, bahwa penanganan sampah di pulau Doom sudah terhenti selama kurang lebih 1 tahun. Bahkan keterangan yang diperoleh terkahir penanganan sampah ditangani oleh komunitas Doom bersih yang beranggotakan 10 orang. Hanya kegiatan penanganan sampah di wilayah Doom, pada akhir bulan Oktober tahun 2024 lalu,sehingga data yang diperoleh sejak saat itu sampai saat ini warga hanya membuang sampah ke laut.
Terkait dengan hal tersebut Lurah Duum Timur Johnny R Safkaur saat dikonfirmasi membenarkan bahwa sudah lebih beberapa bulan belakangan ini warga tidak tahu mau membuang sampah kemana, hingga akhirnya membuah sampah ke laut. Dijelaskan pula untuk penanganan sampah di kelurahan baik Doom Timur maupun Doom Barat. Dimana sejak tahun 2022 dirinya dilantik menjabat Lurah. Kemudian pada bulan Februari 2022 melakukan kerjasama antara Pelindo baik dengan Doom Barat maupun Doom Timur. Kerjasama tersebut akhirnya, dapat bantuan dua bentor untuk angkut sampah. Nah Pelindo tunjuk pihak ketiga yakni PT Inkram dari Surabaya.
” Nah mereka jalan dengan kita dengan masa kontrak satu tahun. Mereka jalan sampai masa kontrak selesai. Kemudian Distrik ambil alih dan mereka yang kelola,” akunya
Menurutnya setelah diambil alih Distrik, dengan membentuk komunitas Doom bersih beranggotakan 10 orang, tetapi hanya berjalan kurang lebih 6 bulan saja dan mandek atau macet sampai sekarang ini. Ketika ditanya mengenai penanganan atau solisinya dan selama ini masyarakat di pulau Doom, buang sampah dimana.

” Yah pastinya buang ke laut. Nah kemarin ada program makan bergizi, mereka ketemu sama. Mengenai program MNG tetapi sampahnya mau buang dimana. Tapi saya jawab ke mereka, akan saya surati Kadistrik untuk menyerahkan dua bentor kembali ke masing- masing kelurahan. Karena bentor itu milik kelurahan, disebabkan kita yang menangani MOU antara pihak kesatu dan pihak kedua,” akunya.
Lebih lanjut Johnny mengatakan saat ini, kondisi kedua bentor pengangkut sampah masih baik dan layak untuk digunakan. Kemudian untuk mengatasi masalah ini, dirinya bersama Lurah Doom Barat sudah bertemu Kadistrik Doom dan sudah mau diserahkan kembali penanganan ke masing-masing kelurahan. Hanya saja dari kelurahan harus membentuk tim komunitas kebersihan yang akan mengangkut sampah masyarakat. Menurut tim kebersihan nantinya direkrut dari anak-anak muda pulau Doom.
” Kita akan bentuk tim kemudian menyampaikan ke RT dan RW untuk segera menyampaikan kepada warganya. Setiap RT ada berapa kepala keluarga. Nanti kita mengacu aturan untuk angkut sampah,” imbuhnya.
Dikatakan Lurah Duum Timur yang menjadi kendala saat ini, jika tim sudah terbentuk dan segara melakukan kegiatan pengangkutan sampah dari rumah warga. Tetapi tengki penampung sampah atau kotak kuning sudah tidak ada lagi di wilayah penyeberangan Doom di wilayah Sorong tepatnya dekat kantor Pelindo.
“Kita akan menyurati pak Walikota tentunya sepengetahuan Kadistrik untuk minta tempat penampung sampah diletakkan di wilayah penyeberangan Doom yang berada di Sorong,” imbuhnya.
Diuraikan pula saat kerjasama dengan Pelindo dulu, untuk penanganan sampah warga masyarakat. Dimana setelah dikumpul, dalam seminggu dua kali di drop ke pelabuhan penyeberangan Doom di Sorong dan biasanya dalam seminggu setiap hari Selasa dan Kamis dengan memakai taksi laut untuk drop sampah.
” Kita bayar taksi laut untuk angkut. Sudah ada tanda dari pak Walikota untuk kasih taksi laut satu ke kita untuk muat sampah ke penyeberangan Doom di Sorong. Dulu memang ada tong sampah disebelah tetapi sekarang sudah tidak ada. Pasti kita akan sampaikan ke pak walikota,” tegasnya.
Menurut Lurah Doom Timur yang dikuatirkan jika warga membuang sampah dipastikan merusak habitat laut. Kemudian jika misalnya masyarakat membuah sofa atau kursi bekas yang sudah tidak ke laut, hingga akhirnya terkena baling- baling kapal dan as patah. ” Pilih mana, kapal yang mengalami kerusakan pasti mahal dibandingkan dengan kursi atau sofa bekas,”‘ ujarnya.
Diakuinya juga pernah beberapa bulan yang lalu, warga karena kesal akhirnya menumpuk sampah di pelabuhan penyeberangan Doom. Tetapi dirinya meminta tolong bersama bapak Derek Wamea dan melibatkan warga membersihkan sampah tersebut. ” Tapi sekarang mau bagaimana lagi. Warga buang sampah saja ke laut. Habis mau buang kemana,” ucapnya.(boy)

